EnglishIndonesian

 

Selamat Datang di Website Resmi Kantor Kecamatan Seririt Pemerintah Kabupaten Buleleng -

 

KEPALA KECAMATAN
IDA BAGUS PRANAJAYA,BA

 

Menu Lain
Desa Banjar Asem
 
Desa Bestala
 
Desa Bubunan
 
Desa Gunungsari
 
Desa Joanyar
 
Desa Kalianget
 
Desa Kalisada
 
Desa Lokapaksa
 
Desa Mayong
 
Desa Pangkung Paruk
 
Desa Patemon
 
Desa Pengastulan
 
Desa Rangdu
 
Desa Ringdikit
 
Kelurahan Seririt
 
Desa Sulanyah
 
Desa Tangguwisia
 
Desa Ularan
 
Desa Umeanyar
 
Desa Unggahan
 
Desa Munduk Bestala
 

Bank Data
Bank data Lainnya

Agenda Kegiatan
Agenda Kegiatan Lainnya

Kritik & Saran

Chatting / Support
Chatting 1:
 

 
Menu
Desa Pengastulan

PROFIL DESA PENGASTULAN

 

 

SEJARAH DESA PENGASTULAN

Pengastulan adalah sebuah desa, terletak dipantai utara pualu dewata dan merupakan salah satu desa nelayan di daerah kabupaten Buleleng, kususnya di Kecamatan Seririt .

Berdasarkan prestasi yang ditulis dengan aksara ( hurup ) Bali diatas daun lontar yang di temukan sudah lapuk belum lama ini, Desa Pengastulan didirikan pada hari Rabu ( Budha ), Paing, wara landep, sasih kapat, tit tanggal paing 8, iska warsa tahun 1381. Sebelumnya, tersebut nama Desa Muntis yang merupakan cial bakal tiga desa, yaitu Desa Pengatsulan, Desa Bubunan dan Desa Sulanyah.

Desa Muntis terletak di sebelah timur jalan besar, di sekitar pelemahan pura Kendal. Kuburan desa tersebut berada disebelah baratnya dan disebelah selatan kuburan berdiri Pura Dalem sampai sekarang . Desa itu berkembang Pesat, Karena tanah disekitarnya sangat subur. Air itu mengairi sawah sangat melimpah disebabkan letaknya sebelah sungai saba yang tidak pernah kering. Dibarengi dengan penduduk desa yang cukup rajin, baik sebagai Nelayan, maka tidak mengherankan kalau keadaan penduduk sangat makmur. Orang-orang dari luar banyak berdatangan   baik sebagai pedagang dan bahkan ada juga yang terus menetap sebagai penduduk. Di antara pedagang yang datang, adapula orang-orang Cina. Pada saat itu Desa Muntis masi dikelilingi hutan belukar tadi, terdapat sebuah batu besar yang dikeramatkan oleh penduduk, karena bertuah. Mereka sering berkunjung lalu Bersemedi dan Memuja. Pedagang – pedagang Cina juga Sering datang untuk memohon berkah dan keselamatan kehadapan Ida Bhatara yang melinggih. Karena permohonan mereka sering terkabul, maka di atas Batu besar  tadi dibangun “ pelinggih “ yang besar , yang kemudian merupakan sebuah Pura, dinamakan Pura Gede. Pada waktu pebanguna pura tersebut, mengalir sumbangan-subangan, diantaranya sumbangan yang berasal dari pedagang-pedagang Cina. Hal ini terbukti banyak perabot-perabot bikinan Cina, piring,cangkir dll, terpasang menjadi hiasan tembok pelinggih Pura.  Sesuai dengan kepercayaan penduduk, dalam pelinggih,  tersebut bersemayam ida Bhatara Agung Ngurah Angker.  Disebelahnya dibuatka pula pelinggih, seperti pelinggih Ida Ayu Manik Galih serta pelingi-pelingih lainnya termasuk pura segara. Juga didirikan bale Agung di sekitar penataran pelinggih yang dimanfaatkan sebagai tempat paruman atau pertemuan oleh penduduk kerama subak Puluran dan Belumbang. Bale Agung tesebut sampai saat ini merupakan Bale Agung tunggal Desa Pengastulan, Bubuna dan sulanyah. Penduduk Desa Muntis makin berkembang. Makin lama makin Padat. Untuk menanggulani Kepadatan Penduduk, kerama desa dan kerama subak mengadakan parum dipim[pin Jro Bendesa. Dalam rapat disepakati pemecahan desa, dan semua keluarga dipindahkan kelokasi yang berdekatan. Alas an lainnya pemindahan penduduk itu ialah karena Desa Muntis  berada di hulu ( luwanan ) Pura Gede yang keramat itu, dan hal itu dianggap sering mendatangkan malapetaka. Pada hari dewasa yang baik, yaitu hari Rabu Icaka 1381 atau tahun 1459 seperti tersebut diatas, mulailah dilakukan perpindahan penduduk, diawali dengan perabasan hutan belukar. Mereka yang berprofesi sebagai nelayan, mengungsi kearah utara kemudian membuatan  perumahan disekitar Pura Gede. Karena pura tersebut merupakan tempat pemujaan atau pengastawaan, maka nama desa disebut Desa Pengastulan. Sedangkan mereka yang mengungsi kea rah selatan umumnya mereka memiliki tanah tegalan dan tanah-tanah persawaan. Mereka mendirikan desa dengan nama Bubunan. Kata bubunan berasal dari Bunbunan, karena tempat tersebut ditumbuhi banyak pepohon. Kadang kala penduduk menyebutnya bangsing kayu ( bun ), karenanya desa bubunan juga sering disebut desa bangsingkayu. Ada lagi penduduk Desa Muntis yang mengungsi ke sebelah timur desa bubunan, dan mereka umumnya memiliki tanah-tanah tegalan. Mereka bergotong royong mendirikan desa baru, namanya suralengke,lama-lama menjadi Desa Sulanyah.

Khusus mengenai Desa Pengastulan, sejak didirikannya penduduk sangat aktif bergotng royong membersihkan hutan belukar dan rawa-rawa.meraka membuat jalan besar yang mengelilingi desa dan menghubungkannya dengan pura dalem dan tapi laut. Untuk mempermudah hubungan satu keluarga dengan keluarga lainnya . dibikin pula gang-gang.kemudian desa tersebut dibagi menjadi empat banjar yang sekarang disebut banjasari, banjar Pala,banjar Purwa dan banjar Kauman. Di pojok timur semacam tetamanan, namanya taman sari ( Kendal). Disana terdapat mata air dan pancuran, dimanfaatkan sebagai tempat permandian untuk menyucukn diri. Di bagian barat daya juga di bangun taman bunga ( pembungaan ) oleh penduduk disebut pembangunan. Disana juga dibuatkan sebuah pelinggih, namanya pura pembungaan.

Untuk mengatur tata tertib pemerintah danadat agama, ditunjuk seorang bendesa adat ( Jro Bendesa ), seorang prebekel dan Jro mangku Gede, di bantu pemengku-pemangku lainnya. Jro bendesa Bertempat tinggal disudut desa barat daya, sedangkan Jro mangku Gede di Banjar sari sebelah utara Pura Gede.

Pada waktu pemerintahan kibarakpanji sakti di Buleleng sekitar tahun 1604, raja menugaskan seorang punggawa untuk menjaga punggawa untuk menjaga keamana daerah Buleleng Barat.

Hal itu dilakukan karena daerah tersebut sering menjadi sasaranbajak-bajak laut, hingga suasana daerah tidak tentram. Punggawa itu bersemayam   di desa pengastulan, rumahnya dibanjar tengah ( Banjar pala sekarang ). Konon yang menjadi punggawa ialah keturunan Sira Arya Tegeh Kori,yang semula mengungsi dari bali selatan ke bali utara. Sebagai sebagi tempat peribadatan keluarga tegeh kori, maka didirikan sebuah  pura dengan nama pura badung. Nama mungkin yang bersangkutan berasal dri daerah badung. Beberapa keturunan Arya Tegeh Kori berhasil menduduki jabatan punggawa, selanjutnya beralih ke desa bubunan, punggawa berkuasa atas distrik  Pengastulan yang daerahnya ditetapkan dari aliran sungai tukad men daung sebelah timur desa kalianget sampai daerah telik terima. Setelah Indonesia merdeka, distrik pengastulan dilikwidasi ( dilebur ) menjadi 3 kecamatan, yaitu kecamatan seirit. Kecamatan Busungbiu, Kecamatan Gerokgak.

Tiga desa, yaitu Pengastulan Bubunan dan Sulanyah Sampai saat ini Menjadi Bale Agung Tunggal, bersama bersujud di Pura Gede. Hal ini di ibaratkan sebagai pohon kayu. Desa Pengatsulan sebagai batangnya yang member kekuatan hidup kepada seluruh pohon. Desa Sulanyah Sebagi cabang dan daun, maksudnya untuk melindungi pokok kayu supaya tidak kepanasan. Sedangkan Desa BubunanSebagai sulur  ( Bangsing-Bun ) Sebagai pertahanan keamana phon seluruhnya ketiga desa tersebut masing-masing telah mempunyai    Kahyangan Tiga, sedangkan pura tetap menjadi tanggu jawab ketiga desa tadi. Suatu bukti nyata, bahwa ketiga desa tersebut pernah menjadi satu desa, ialah pemangku pura Desa Pengatsulan berasal dari desa bubunan. Demikian pula salah satu pelinggih yang terdapat di pura Gede Pengatsulan, Pemangkunya Berasal dari   Desa Bubunan, yang mendapat julukan Jero balian.

Pura Gede mempunyai dua macam yadnya, karena yang menyungsung terdiri atas dua kelompok masyarakat, yaitu yatu warga desa dan karma subak. Pada saat karya tama ( Musabha )yang diselenggarakan oleh karma subak Puluran dan Belumbang setiap panen kerta mata disawah, Waega masyarkat hanya sebagai pendukung ( Ngeruntunin ) . sedangkan pada waktu karya piodalan, dilakukan oleh tiga karma desa ( Pengatsulan , Sulanyah dan Bubunan ), Berlangsung pada Purnamaning kapat, didukung oleh semua karma subak ( Ngeruntunin ). Tiga hari sbelum upacara karya, Tiga warga desa secara kompak melakukan upacar mekiis kelaut. Esok harinya mekiis Subak ke empelan ( sumber Air ). Hari berikutnya dilakukan Pengeneng, munggah sekar, lalu piodalan Ida Dewa Ayu Maniking Amerta ( Galih ). Hari berikutnya dilakukan karya Ageng piodalan Ide Bhatara Dewa Gede Keesokan harinya berulah dilakukan karya di pure Segare. Berdasarkan babad, Setelah dilakukan karya piodalan, pada hari tilm berikutnya diadakan yadnya lagi, dinamakan upacara ngambe pasih, untuk penghormatan terhadap Bhatara Baruna ( Dewa Laut ). Pada saat itu, semua jenis   sampan, jukung dihiasi secara indah kemudin mengadakan perlombaan di laut sebelah utar desa. Hal itu sebagai perwujudanrasa terima kasih kepada Bhatara Baruna atas Karunia yang senantiasa dilimpahkan kepada para Nelayan.

Selain di pura Gede, di pura lainnya yamg berda di desa Pengastulan juga sering diadakan upacara piodalan. Seperti di pura dalem, Pura Desa dan Pura Pebean yang merupakn pura kahyangan  Tiga. Sedangkan di pura Badung, Piodalan juga dilakukan secar periodic oleh Warga Arya Tegeh Kori setempat.

Penduduk Desa Pengastulan berjumlah sekitar 4447  jiwa, sebagai besar beragama Hindu kecuali banjar kauman beragama islam. Meskipun terdapat perbedaan agama Namun kehidupan Bergama cukup mantap. Masing-masing pemeluk agama menghormati kepercayaan masing-masing. Persatuan dan kesatuan warga masyarakat terbina dengan baik. Pada waktu Revolusi Pisik merebut dan mempertahankan Kemerdekan indinesia tahun 1945, tampak persatuan dan kesatuan cukup tinggi dalam upaya mengusir penjajah. Dengan senjata persatuan mereka sangat tabah menghadapi Nica yang berpusat di kota seririt. Dibawah naungan pemuda –pemuda pejuang yang menghimpun diri dalam staf cabang “ Kiskunde” warga masyarakat desa Pengastulan Bubunan dan sulanyah   yang men jadi satu Bale Agung, senantiasa mnjalin hubungan guna menghadapi blockade musuh. Namun, karena masih adanya oknum-oknum yang diperalat oleh nica bebrapa orang pejuang tewas tertembak, sebagaian lagi dijebloskan dalam tahanan musuh. Mereka di usut, disiksa dan didera habis-habisan ada yang cacat pisik.

Karena perjuangannya itu, di Desa pengastulan, Bubunan dan Sulanyah banyak terdapat anggota Vetran pejuang kemrdekaan, yang telah mendapat pangkuan dari Legion Vetran Republic Indonesi (LVRI ). Seperti desa-desa lainnya desa pengastulan juga tidak ketinggalan dalam mewujudnya pembangunan Nasional. Demikian sekilas asal mula desa Pengastulan dan setitik kegiatan dalam perjuangan nasianal 

 

VISI DAN MISI

VISI : Mewujudkan Desa Pengastulan yang damai,  aman dan  sejahtera

MISI :

Melaksanakan pembangunan di segala bidang secara berkesinambungan dengan   bermotif Tri Hita Krana

Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat Desa Pengastulan

Meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat Desa Pengastulan

Meningkatkan dan pemberdayaan lembaga-lembaga yang ada di Desa Pengastulan

 

LUAS WILAYAH DESA : 76,5 Ha

Pemanfaatan wilayah :

Perkebunan :    1,5 Ha                                             

Pertanian     :    41 Ha                                               

Kuburan     :    2,3 Ha

Perumahan   :   31, 7 Ha

Tegalan       :  -

 

LETAK DAN BATAS-BATAS DESA

Seblah selatan :   Kelurahan Seririt 

Sebelah utara :   Laut Bali                                                   

Sebelah Barat   : Sungai Sabha

Sebelah Timur    :  Pangkung

 

JARAK PEMERINTAHAN KE

Kecamatan :  1km                   

Kabupaten : 22 Km                

Provinsi       :  100 Km

 

JUMLAH DUSUN : 4 buah

NAMA DUSUN

Dusun :  Purwa            

Dusun : Sari                                                                                             

Dusun : Pala

Dusun : Kauman

 

JUMLAH PENDUDUK : 4468 Jiwa       

Laki- Laki : 2283 Jiwa,        

Perempuan : 2285 Jiwa

 

MATA PENCAHARIAN PENDUDUK

Petani : 102                                      

Buruh  Tani : 162

Jasa dan Perdagangan : 1102                                   

Peternak : 98

PNS :   57                                         

P. swasta : 98

Bidan/paramedic  :   2                                            

TNI/Polri : 55

Nelayan :  300

 

POTENSI YANG DIKEMBANGKAN

Pertanian        : Anggur dan Padi               

Peternak         : Sapi,Kerbau,Kambing,Babi,ayam

Pariwisata      : Bahari                                

kerajinan        : Tidak ada

 

SARANA PENDIDIKAN

Tk  : 2 buah                              

SD : 3 buah

SLTP : 1 buah                               

SMA : Tidak ada

SARANA KESEHATAN

Posyandu  : 4 buah                               

Puskesmas    : 1 buah

SARANA DAN PRASARANA MEDIA INFORMASI

Jumlah sarana Komputer pada Kantor Desa dan spesikasinya 4 buah

jumlah penduduk yang mempunyai TV 1165 dan Radio 869

Junlah penduduk yang berlangganan Koran 25 orang

Jumlah penduduk yang mempunyai Telepon 23 dan HP 2407

Jumlah penduduk yang mempunyai Komputer 35

 

( data per maret 2010 )

 

 

 

 

Video Kegiatan
Video Kegiatan Lainnya

September, 2014
MSSR KJS
 12 3456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    

Jajak Pendapat
Bagaimana Pelayanan Kecamatan Seririt Pemkab Buleleng?
Bagus Sekali
Bagus
Cukup
Kurang
Hasil Jajak Pendapat
Dari:21 Responden
Lihat Hasil

Twitter
 
 
Buleleng SMILE - Sejahtera, Mandiri, Integrasi, Lestari, Etika


Informasi

Beranda
 
Berita
 
Foto
 
Video
 
Webmail
 

Situs Terkait
 
kecamatan seririt
 
Kecamatan Tejakula
 
Kecamatan Gerokgak
 
Kecamatan Busungbiu
 
Kecamatan Banjar
 
Situs Terkait Lainnya
Pengunjung

6342491
Pengunjung hari ini : 486
Total pengunjung : 448021

Hits hari ini : 3343
Total Hits : 6342491

Pengunjung Online: 39


Info Kontak

Kecamatan Seririt
Alamat
Telp (0362) 92301
Fax (0362)92301
Email seririt@bulelengkab.go.id
Website http://seririt.bulelengkab.go.id


Copyright © 2013 Kecamatan Seririt - Pemerintah Kabupaten Buleleng - Bali Indonesia. All Right Reserved.