Dewi Sri Simbol Kota Sri Rejeki Tani

  • Admin Seririt
  • 06 Oktober 2017
  • Dibaca: 197 Pengunjung

 

Desa muntis adalah sebuah desa besar dan strategis di kawasan Bali Utara bagian barat. Karena wilayah ini dikelilingi oleh desa-desa tua dan besar yang ada di kwasan tersebut seperti Kalianget dan Tangguwisia (dari Timur), Rangduakit / Ringdikit, Rangdu, Mayong, Bestala dan Tunju / Gunungsari (dari selatan), Patemon, Lokapaksa, Ularan, Unggahan, Umeanyar, Toya Meles / Yeh Anakan, Kalisada dan Pangkung Paruk (dari barat), yang semua bertitik temu di Muntis. Selain itu kawasan ini juga di aliri oleh sebuah mata air yang besar berjumlah sebelas mata air dan mata air yang paling besar bersumber dari lereng gunung Batukaru. Sungai ini adalah sungai yang basah sepanjang tahun yang bermuara di desa Muntis. Sungai ini dikenal dengan nama Tukad Sabha (Sabeh). Hal ini yang menyebabkan kawasan desa Muntis amat subur.

 Tak hanya desa Muntis desa-desa yang ada disekitarnya yang dilalui dan dialiri oleh air dari sungai Sabha juga sangat subur. Tukad Sabha mampu mengairi Subak-Subak besar yang ada di kawasan Desa Muntis dan sekitarnya, diantaranya Subak Uma Desa, Blumbang, Puluran, Banyumati dan Yeh Anakan serta subak-subak kecil seperti, subak Babakan, Tegal Intaran, Pangkung Kunyit dan masih banyak lagi yang lainnya. Karena wilayah ini amat subur maka sebagian besar penduduk Desa Muntis dan sekitarnya berprofesi sebagai Nelayan karena wilayah ini sampai pada pesisir pantai.

Lambat laun Desa Muntis berkembang menjadi tiga desa, yakni Desa Pengastawayan (Pengastulan), di sebelah utara, Desa Suralengka (Sulanyah) di sebelah timur dan Desa Bunbunan (Bubunan) di sebelah selatan. Dengan kata lain Desa Muntis ini adalah cikal bakal dari Desa Pengastulan, Sulanyah dan Bubunan. Sekali lagi karena wilayah desa Muntis ini amat strategis maka pada zaman Colonial Belanda daerah ini di jadikan distrik atau pusat Pemerintahan setingkat Kecamatan. Daerah ini di kenal dengan nama Distrik Pengastulan. Ditengah-tengah desa ini ada wilayah yang dijadikan penduduk setempat sebagai kawasan tempat melakukan pertukaran barang terutama hasil bumi dan jasa (pasar).

Umumnya di Bali, masyarakat Hindu percaya dan yakin terhadap manifestasi Tuhan dalam bentuk dan wujud wanita cantik yakni Dewi Sri (Laksmi) sebagai lambang dari kesuburan. Untuk menghargai dan menghormati wilayah yang banyak memberikan penghidupan dengan hasil yang melimpah maka kawasan di atara ke tiga desa tersebut dinamai "SRI REJEKI TANI" yang kemudian di singkat menjadi "SRIRIT" entahkarena penulisan ejaan atau mungkin hal yang lain, tulisan "SRIRIT" tersisipi huruf  "E" dan berubah menjadi "SERIRIT". Dan seiring perjalanan waktu, kota Seririt dijadikan pusat Kecamatan yang wilayahnya mencakup 20 Desa dan 1 Kelurahan.

untuk mengingatkan kita pada Sang Pencipta dan selalu bersyukur padanya, maka kemudian didirikanlah sebuah patung Dewi Sri di sebelah Pura Padmasana di jantung Kota Seririt. Yang sampai sekarang menjadi icon kota kecil tersebut.

sumber by:

- Curillin Rierlin Kiske

- Penuturan Para Sesepuh

       

Share Post :