Hari Suci NYEPI Di Bali Untuk Dunia

  • Admin Seririt
  • 12 Maret 2020
  • Dibaca: 532 Pengunjung

Nyepi, Persembahan dari Bali untuk Dunia

Nyepi dilaksanakan setahun sekali sehari setelah hari Tilem Kesanga adalah cara orang Bali penganut Hindu, secara simbolik maupun langsung, memelihara jagat raya beserta isinya melalui peringatan tahun baru Caka. Rangkaian pokok penting pelaksanaan Nyepi adalah, Melasti, Tawur, Sipeng, dan Ngembak Geni.

Melasti merupakan upacara menyucikan simbol-simbol, perkakas upacara, dan Pretima (simbol stana Tuhan). Simbol-simbol tersebut diusung ke sumber-sumber air yaitu laut atau danau untuk disucikan. Warga yang mengusung dan mengiringi juga ikut membersihkan diri. Upacara ini dilaksanakan 3 sampai 2 hari menjelang Hari Nyepi. Makna simbolik Melasti adalah membersihkan jagat kecil (Mikrokosmos). Menurut keyakinan Hindu unsur-unsur yang ada pada jagat kecil (diri sendiri) sama dengan unsur-unsur jagat raya, yaitu pertiwi (tanah), apah (air), teja (sinar, api), bayu (angin) dan akasa (ruang, atmosfir). Jadi membersihkan jagat kecil dilakukan lebih dulu agar jagat kecil dapat menyucikan jagat besar.

Tawur merupakan upacara Bhuta Yadnya, korban suci untuk Bhuta (alam semesta). Pelaksanaan upacara ini dilakukan dengan mempersembahkan upakara kepada makhluk-makhluk penghuni alam bawah (bhur loka) agar makhluk-makhluk itu tidak mengganggu kehidupan manusia dan dapat hidup damai berdampingan dengan manusia. Menurut ajaran Hindu, manusia tidak hidup sendiri di alam ini, tetapi tinggal bersama dengan makhluk lain yang dapat dilihat maupun tidak dapat dilihat. Manusia Hindu ingin hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk itu secara damai tidak saling mengganggu.

Pada hari pelaksanaan Tawur itu di sore hari warga Hindu di Bali, kemudian diikuti juga oleh warga Hindu di beberapa daerah di luar Bali, mengusung kreasi seni budaya berupa patung makhluk menyeramkan yang disebut Ogoh-ogoh, yang sudah disiapkan jauh hari sebelumnya. Ogoh-ogoh itu diusung keliling kampung, keliling kota diiringi tabuh beleganjur. Ogoh-ogoh itu dimaksudkan sebagai makhluk penghuni alam bawah. Setelah diusung keliling Ogoh-ogoh yang dimaksudkan sebagai makhluk penghuni alam bawah itu kemudian dibawa ke kuburan atau bagian nista mandala untuk dibakar, (disomya) makhluk itu dikembalikan ke alam habitatnya. Makna simbolik dari upacara Tawur adalah menyucikan jagat raya. Upacara Tawur ini dilaksanakan pada Tilem Kesanga, sehari sebelum hari Nyepi.

Setelah jagat kecil disucikan melalui upacara Melasti dan jagat raya disucikan melalui upacara Tawur, maka warga Hindu di Bali siap melaksanakan Sipeng di hari Nyepi.

Sipeng bahasa Bali artinya sepi. Sipeng dilaksanakan dengan melakukan Catur Berata (empat bentuk pengendalian diri). Tidak menyalakan api termasuk juga tidak menyalakan listrik. Tidak bekerja. Tidak bepergian. Tidak menikmati hiburan. Bagi warga Hindu Catur Berata itu adalah mengendalikan hawa nafsu. Yang diharapkan dilakukan oleh warga Hindu di Bali saat Sipeng adalah kontemplasi, introspeksi, merenungkan apa yang sudah dan belum dilakukan selama setahun sebelumnya untuk dapat melaksanakan hal yang lebih baik selanjutnya.

Makna simbolik dari Sipeng adalah warga Hindu di Bali memberikan kesempatan kepada alam untuk tidak diganggu, tidak dicemari oleh berbagai aktivitas. Kalau di kota besar dunia dapat sepi satu jam saja bisa mengurangi polusi dan menurunkan suhu bumi, betapa besar kontribusi bagi bumi kalau bisa sepi dilakukan 24 jam seperti di Bali setiap tahun.

Ngembak Geni bahasa Bali berarti sudah boleh menyalakan api, itu berarti juga sudah dapat kembali melaksanakan aktivitas normal yang tidak dilakukan saat Sipeng di hari Nyepi. Seharusnya yang dilakukan adalah hasil kontemplasi yakni melaksanakan hal yang lebih baik dari yang dilakukan sebelumnya.

Ngembak Geni yang dilaksanakan sehari setelah Sipeng di awali dengan sembahyang kemudian dilanjutkan dengan mesimakrama saling mengunjungi sanak keluarga dan teman.

Rangkaian upacara Nyepi yang dilakukan oleh warga Hindu di Bali itu tidak hanya untuk Bali dan penganut Hindu tetapi untuk jagat raya beserta isinya. Keyakinan orang Bali Hindu yang dimaksud saudara tidak hanya mereka yang seiman tetapi saudara bagi orang Bali Hindu adalah semua makhluk ciptaan Tuhan dan keluarga adalah alam semesta beserta isinya. Karena itulah upacara dan doa warga Bali Hindu dan doa Hindu umunya tidak hanya mendoakan diri, keluarga dan kelompok tetapi melaksanakan upacara dan doa untuk keselamatan jagat raya dan kesejahteraan penghuninya.

sumber: Ketua PHDI Kabupaten Buleleng.

Share Post :