*Makna Tumpek Wayang*
Tumpek Wayang, yang dirayakan setiap Sabtu Kliwon Wuku Wayang (setiap 210 hari), adalah hari suci pemujaan Sang Hyang Iswara sebagai Dewa Kesenian dan wujud syukur atas kreativitas. Makna utamanya meliputi penyucian diri, peruwatan (khususnya bagi yang lahir di wuku Wayang), serta menghormati kesenian dan benda seni, terutama wayang.
Makna Filosofis dan Penggunaan Tumpek Wayang:
Pemujaan Sang Hyang Iswara: Hari ini merupakan Puja Walinya Sang Hyang Iswara, manifestasi Tuhan yang menguasai arah timur dan cahaya.
Hari Kesenian (Penghormatan Seni): Tumpek Wayang adalah hari "kelahiran" atau penyucian benda-benda seni, termasuk perangkat wayang kulit, gamelan, topeng, dan alat musik tradisional.
Peruwatan (Sapuh Leger): Anak yang lahir pada wuku Wayang (khususnya Sabtu Kliwon) wajib menjalani ritual Sapuh Leger agar terhindar dari pengaruh buruk Dewa Kala.
Pembersihan Diri: Momentum untuk menyucikan diri (niskala) dan menjaga keseimbangan alam semesta dari energi negatif.
Refleksi Hidup: Mengingatkan manusia pada "panggung wayang kehidupan," di mana manusia berperan di bawah kendali Sang Pencipta (Dalang Agung).