TRI MURTI
Memahami Tri murti secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari
Om Swastyastu
Kalau kita berbicara tentang Tri Murti, sering kali kita hanya mengenalnya sebagai Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Tetapi di balik itu ada sebuah pemahaman yang jauh lebih dalam, yaitu utpatti, sthiti, dan pralina.
Utpatti berarti lahir atau muncul.
Sthiti berarti hidup, berlangsung, dan terpelihara.
Pralina berarti berakhir, melebur, dan kembali kepada asal.
Kalau kita sederhanakan dalam kehidupan manusia:
lahir, hidup, kemudian mati.
Tetapi sebenarnya konsep ini tidak hanya berlaku pada manusia. Kita dapat melihatnya dalam seluruh kehidupan.
Lihatlah perjalanan waktu.
Pagi, siang, dan malam.
Pagi adalah munculnya cahaya.
Siang adalah berlangsungnya kehidupan.
Malam adalah berakhirnya satu putaran hari.
Kemudian pagi datang kembali.
Begitu pula kehidupan.
Sesuatu muncul, kemudian berkembang dan berlangsung, lalu pada waktunya mengalami perubahan dan kembali kepada asalnya.
Bahkan pikiran kita pun mengalami hal yang sama.
Sebuah pikiran muncul.
Kemudian kita memeliharanya.
Setelah itu pikiran tersebut berlalu dan digantikan oleh pikiran yang lain.
Begitu juga emosi.
Marah muncul, bertahan, kemudian mereda.
Sedih muncul, kita jalani, kemudian perlahan berlalu.
Bahagia datang, kita rasakan, lalu berubah kembali.
Maka hidup sebenarnya adalah sebuah siklus perubahan yang terus berlangsung.
Inilah salah satu makna mendalam dari Tri Murti.
Utpatti bukan sekadar kelahiran.
Sthiti bukan sekadar kehidupan.
Pralina bukan sekadar kematian.
Ketiganya adalah hukum perubahan yang selalu bekerja dalam kehidupan.
Dan yang paling penting, pralina bukan berarti kehancuran mutlak.
Pralina berarti melebur dan kembali kepada asal.
Malam bukan berarti pagi telah musnah.
Malam adalah bagian dari perjalanan menuju pagi berikutnya.
Demikian pula kematian bukan semata-mata akhir dari segala sesuatu. Dalam pandangan Hindu, kehidupan berada dalam sebuah proses yang lebih luas daripada sekadar satu kelahiran dan satu kematian.
Karena itu, Tri Murti mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu melekat pada sesuatu yang memang memiliki sifat berubah.
Apa yang lahir akan berubah.
Apa yang hidup akan mengalami perubahan.
Apa yang berbentuk pada akhirnya akan mengalami pralina.
Maka jangan takut terhadap perubahan.
Jangan terlalu melekat pada kelahiran.
Dan jangan melihat kematian hanya sebagai kehancuran.
Sebab semuanya merupakan bagian dari satu proses:
muncul, berlangsung, kemudian kembali.
Utpatti, sthiti, pralina.
Lahir, hidup, mati.
Pagi, siang, malam.
Dan ketika kita memahami siklus ini, kita mulai menyadari bahwa hidup bukan tentang mempertahankan segala sesuatu agar tidak berubah.
Hidup adalah belajar menerima perubahan dengan kesadaran.
Karena yang berubah adalah bentuknya.
Tetapi di balik seluruh perubahan itu, ada hakikat yang menjadi dasar dari semuanya.
Di sanalah perjalanan spiritual dimulai:
bukan hanya memahami apa yang lahir, hidup, dan mati, tetapi menyadari apa yang berada di balik seluruh proses tersebut.
Om Santih, Santih, Santih Om